Setiap muslim yang beriman pasti akan merasakan atmosfir yang berbeda ketika mulai mendekati bulan Ramadhan, nuansa yang penuh kebahagiaan, kesenangan bahkan membangkitkan kenangan-kenangan masa kecil ketika menyambut dan melaksanakan puasa Ramadhan, kemeriahan ketika tarawih, kenangan ketika “ngabuburit” menunggu azan maghrib sambil melakukan berbagai ragam permainan dan kegiatan. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut bulan ini, baik itu persiapan fisik maupun persiapan mental spritual. karena Puasa Ramadhan ini merupakan sarana untuk menyeimbangkan Fisik dan mental, menyeimbangkan tubuh agar kembali lebih sehat dan menyelaraskan mental kita dengan asupan ilmu-ilmu agama yang bermanfaat dalam aktifitas kehidupan. Puasa Ramadhan ini merupakan sarana bagi kita untuk lebih meningkatkan ketakwaan dan keimanan pada sang pencipta.

Dan sekarang saya mau sedikit membahas tentang pentingnya shaum atau puasa di bulan Ramadhan dan hubungannya dengan proses pembuangan racun dalam tubuh (Detoksifikasi), dengan mengambil dari berbagai macam narasumber sebagai referensi acuan.

Detoksifikasi (detoxification, detox) itu sendiri merupakan  lintasan metabolisme yang mengurangi kadar racun di dalam tubuh, dengan penyerapan, distribusi, biotransformasi dan ekskresi molekul toksin.(@wikipedia) atau secara sederhana bisa diartikan sebagai proses pembuangan racun atau toksin atau mengurangi kadar racun dari dalam tubuh. (@prosesdetok.com)

Jika anda sering mengalami keluhan seperti sering sakit kepala, cepat lelah, sariawan atau Kulit bermasalah.   berhati-hatilah. karena kondisi itu menandakan adanya tumpukan toksin di dalam tubuh Anda. (@ Andang Widhawari Gunawan, konsultan gizi dan penggagas Food Combining/kompaslifestyle)

Toksin atau racun, tentu harus dikeluarkan dari tubuh. Jika jumlahnya sudah berlebih, ia akan menumpuk dan menyebabkan toksemia (kondisi keracunan dalam darah). Jangan anggap enteng toksemia sebab ia berkaitan dengan hampir semua penyakit degeneratif.

Lalu yang jadi pertanyaan adalah kenapa racun kok bisa bersarang di tubuh kita, dari mana asalnya ?

    1. Racun bisa berasal dari dalam (Faktor endogenus)  misalnya Tingkat stress yang menyebabkan produksi hormon berlebihan, sisa metabolisme, radikal bebas, gangguan fungsi hormon, dan bakteri penyakit yang sudah ada di dalam tubuh. Bahkan makanan yang kita konsumsi untuk mencukupi kebutuhan gizi ternyata mengandung racun terselubung yang tidak kita sadari.
    2. Racun bisa berasal dari luar (Faktor eksogenus), faktor eksogenus diantaranya polutan, obat-obatan, hormon pada ternak, produk susu, makanan yang diproses, lemak trans, dan mikroba.

Bahkan gaya hidup yang sudah menjadi kebiasaan tanpa kita sadari berperan dalam penumpukan racun dalam tubuh, seperti kebiasaan merokok, kebiasaan memakan makanan fastfood, makan gorengan dan berlemak dll.

Lalu bagaimana cara menghilangkan atau meminimalisir penumpukan racun dalam tubuh ??

Sebenarnya tubuh sudah memiliki mekanisme sendiri dalam menangani toksin ini. Berkeringat, berkencing, dan buang air besar merupakan detoksifikasi alamiah. Hanya saja, cara ini tidak serta merta menuntaskan masalah. Ada saja penyebab yang membuat mekanisme alamiah tadi terganggu. “Bayangkan saja jika sehari saja kita mengalami gangguan buang air besar. Atau tidak lancar. Berarti tubuh kita menyimpan racun satu hari. Jika berhari-hari otomatis racun menumpuk dan mengendap. Jadi, melalui buang air atau berkeringat saja ternyata tidak cukup.

Selain Gaya hidup yang sehat, Detoksifikasi yang benar merupakan jawaban bagi tubuh untuk memperoleh zat-zat gizi yang tepat dan memberi kesempatan tubuh untuk lebih leluasa melakukan pembuangan Racun. Organ yang berperan dalam proses detoksifikasi adalah liver dan saluran usus. Detoksifikasi yang hanya fokus pada pengeluaran racun saja sangat berbahaya sebab memberi tekanan pada kedua organ tadi. Jadi, selain mengeluarkan racun, detoksifikasi juga harus memberi makanan dan mendukung kerja organ-organ tadi.

Puasa yang telah dilakukan bulan Ramadhan merupakan cara mudah dan aman berdetoks. Detoksifikasi sebaiknya dilakukan sekali dalam setahun selama 30 – 40 hari. Saat berpuasa, secara alamiah usus akan membersihkan diri. Di saat yang sama, organ tubuh lainnya seperti hati dan lambung akan beristirahat. Hati – organ terbesar dalam tubuh – memang memiliki tugas yang berat. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari permukaan kulit. Dengan berpuasa, tentu ada jeda sekian jam bagi hati untuk beristirahat. Sedangkan lambung merupakan keranjang makanan yang tidak protes meski yang masuk adalah makanan “jelek”. (@Menurut Andang Widhawari Gunawan, konsultan gizi dan penggagas Food Combining/kompaslifestyle)

Proses pembersihan racun dari tubuh itu sendiri tidaklah rumit, karena berpuasa atau menahan makan dan minum selama beberapa waktu dalam sehari dapat dikategorikan sebagai detoksifikasi.Banyak dokter dan pakar kesehatan pun sepakat bahwa berpuasa adalah salah satu bentuk ‘detoks alami’,.

“Puasa itu menurut saya termasuk detoks, sebab tubuh dibiarkan tidak mencerna makanan selama lebih kurang 12 jam. Organ tubuh yang fungsi kerjanya akan menjadi lebih baik setelah puasa adalah pankreas, usus halus, usus besar, lambung, dan hati. Ini merupakan 5 organ yang berperan penting dalam sistem pencernaan di dalam tubuh.” (Rita Ramayulis, DCN, M.Kes/healthdetik.com)

“Berdasarkan penelitian di RSCM bahwa ternyata pada orang yang berpuasa terjadi penurunan dari free radical. Free radical itu kan racun-racun. Padahal proses kita makan itu kan menghasilkan racun-racun.”
“Puasa juga memberi kesempatan bagi pankreas, liver untuk istirahat. Dan kalau bicara soal istirahat, tentu berkaitan dengan regenerasi. Ada proses tubuh memperbaiki bagian yang rusak. Bukti-bukti klinis mengatakan demikian,” (dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB/healthdetik.com)

Pola makanan yang perlu diperhatikan selama puasa Ramadhan ditinjau dari kesehatan ?

(sumber detikhealth)

Detoksifikasi adalah upaya untuk membersihkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh. Sebenarnya setiap hari tubuh sudah melakukan detoksifikasi seperti buang air kecil, buang air besar atau melalui keringat.

“Upaya detoksifikasi selama puasa sebenarnya bukan dari makanan yang di makan tapi proses untuk mengisitirahatkan tubuh sejenak dari beban-beban yang berat di luar bulan puasa,” kata Dr Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCTM, MHA, SpJP, FIHA ketika dihubungi detikHealth, Selasa (25/8/2009).

Banyak manfaat yang bisa diambil dengan berpuasa yaitu proses detoksifikasi tubuh dari segala racun, mengurangi berat badan, memurnikan kerja otak, terlihat lebih muda, dan bisa melatih kesabaran seseorang.

Dr Kasim menceritakan bagaimana proses detoksifikasi yang terjadi selama puasa:

  1.  Ketika buka puasa, makanlah kurma atau buah, bukan kolak karena proses penyerapan kolak sulit dicerna tubuh. Sementara kurma dan buah mengandung jenis gula yang sederhana, gampang diserap, mengandung elektrolit dan mineral lain.
    Jika berbuka puasa dengan kurma atau buah lalu dilanjutkan dengan minum air putih beban pencernaan akan berkurang. Proses detoksifikasi mulai berjalan karena kita tidak memberikan beban yang berat ke pencernaan ketika berbuka puasa.
  2. Ketika berpuasa orang akan memperbanyak ibadahnya, sebaliknya keinginan makan justru agak direm karena kesibukan beribadah. Tradisi makan besar yang biasanya dilakukan di luar bulan puasa akan berubah saat puasa. Kondisi ini tentunya akan membuat sistem pencernaan mendapat diskon dari beban kerja yang berat.

“Kalau ada yang buka puasa dan makan seperti hari biasa kemudian dia salat Isya tiba-tiba bersendawa malah mengucapkan Alhamdulillah sebenarnya dia melakukan pola makan yang keliru. Pola makan yang tidak berlebihan tidak akan membuat orang bersendawa berlebihan hingga mengeluarkan bunyi yang keras,” kata Dr Kasim yang merupakan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di RS Asri Jakarta.

Begitu juga ketika sahur dengan porsi makan yang lebih sedikit dan gerak tubuh selama beribadah yang lebih banyak akan membuat tubuh lebih ringan.

Keinginan makan yang lebih sedikit, terlebih bisa mengurangi makan-makanan manis yang tidak alami selama puasa akan direspons positif oleh tubuh.

Racun yang dibuang akan lebih sedikit sehingga ginjal, liver dan sistem pencernaan tidak mendapat beban kerja yang berat. Sementara aktivitas jantung juga akan santai karena ibadah yang dilakukan membuat ketenangan.

“Jadi kalau puasa dikerjakan dengan benar denyut jantung akan bagus, proses pelepasan insulin berjalan baik dan gula darah akan lebih terkontrol, itu sebenarnya proses detoksifikasi yang terjadi,” imbuh Dr Kasim.

Dia juga mengingatkan untuk lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran karena kandungan buah sama seperti kandungan tubuh yang 70-80 persennya berupa air.

Jadi detoksifikasi tubuh selama puasa adalah mengurangi beban kerja organ tubuh dengan pola makan yang tidak berlebihan. Jangan sampai bulan puasa malah dijadikan kesempatan untuk konsumtif dengan belanja makanan-makanan enak.

 

 

 

Iklan