Keluarga layaknya sebuah negara kecil yang harus dimanaje sebaik mungkin..sehingga negara kecil tersebut dapat berjalan dengan baik bahkan tumbuh berkembang menciptakan generasi yang baik-baik…
Keuangan dalam keluarga terkadang menjadi pemicu masalah dalam sebuah keluarga. Padahal harta adalah salah satu amanah dan ujian dari Allah SWT. Jadi, dalam mencari dan menggunakannya harus dilandasi dengan niat lillahita’ala alias untuk beribadah pada Allah SWT.. Berarti yang harus diyakini pertama kali adalah niatnya

Dengan niat tersebut maka manajemen keuangan keluarga yang baik senantiasa menjaga keseimbangan (tawazun) antara besarnya pendapatan keluarga dengan besarnya pengeluaran. Dalam hal ini Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bersifat qona’ah ketika pendapatan keluarga tidak begitu besar dan berusaha untuk mengpotimalkan pos-pos pengeluaran dengan baik, jangan sampai ‘besar pasak daripada tiang’.


POS KEUANGAN KELUARGA

Dalam kajian keuangan oleh Hendry Munief, SE., Ak. beliau mengatakan kalau Prioritas alokasi pengeluaran dari gaji yang diterima ada dalam 4 titik, yaitu:

1. zakatnya.
2. Pengeluaran kepada pihak ketiga sebagai salah satu kebijakan mendahulukan kewajiban daripada hak.
3. Investasi dan tabungan untuk kehidupan masa depan.
4. alokasi kebutuhan kita sekarang.

Beliau menggambarkan Gaji/pendapatan sebagai air yang masuk ke dalam gentong , sedangkan pos pengeluaran keluarga digambarakan dalam sebuah gentong Qana’ah sebagai berikut:

Penjelasan dari gambar tersebut sebagai

1. Air yang masuk harus melewati Filter Halalan Thoyyibah.
2. Setelah air masuk ke dalam gentong, Kran Air harus ditutup dulu. Kenapa harus ditutup dulu? Karena ”Air” masih harus membasahi bagian terpenting. Yaitu Hak Allah, (Zakat Infaq dan Shodaqoh).

3. Baru setelah Hak Allah kita tunaikan, ”Air” kita alirkan ke saluran “Hak pihak Ketiga”. Apakah hak pihak ketiga itu? Ia adalah hutang dan cicilan yang wajib kita tunaikan.

4. Barulah setelah itu, kita tentukan seberapa banyak ”Air” harus kita sisakan sebelum dihabiskan. Kita alirkan ”Air” ke saluran “Hak Pribadi Masa Datang”. Yaitu untuk menabung dan investasi (pendidikan anak, ibadah haji, dll).

5. Setelah melewati saluran-saluran tersebut, barulah ”Air” bisa kita nikmati untuk mencukupi kebutuhan. Dan ingat! Kran harus tetap difungsikan. Artinya, kita harus bisa hidup hemat, menyesuaikan konsumsi kita dengan ”Air” yang tersedia.

RASIOKAN MASING-MASING POS KEUANGAN KELUARGA

Setelah mengetahui pos keuangan keluarga data secara proporsional pos keuangan tersebut. (baca juga: Rasio Ideal keuangan keluarga)

1. Zakat, infaq, sedekah = 3.5% (minimal 2.5%)
2. Utang = idealnya max. 30%
3. Tabungan = idealnya 10%
4. Kebutuhan Sehari-hari = sisanya.

(baca juga: Rasio Ideal keuangan keluarga)

Misalkan:
Pendapatan keluarga adalah Rp 8.000.000 tiap bulannya, maka idealnya laporan keuangan keluarganya adalah sebagai berikut (dengan utang maksimum = 30 % dari pendapatan)

Catatan:
Utang = kewajiban kepada pihak ketiga
Berarti, menurut saya yang tergolong dalam hutang:
– Cicilan kontrakan
– Cicilan KPR
– Cicilan Kartu Kredit
– Cicilan Motor, Mobil
– Hutang ke tetangga
– Hutang ke warung, dll

Sumber:
http://www.fokma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=18:manajemen-keuangan-keluarga-muslim&catid=5:artikel&Itemid=7