Sarana transfortasi yang smakin digemari saat ini tentu saja motor, banyak keuntungan yang bisa didapat dibandingan kendaraan lainnya, disamping murah, juga memiliki kelincahan yang yang luar biasa dalam menelusuri jalan-jalan perkotaan ataupun perbukitan yang tidak terjangkau kendaraan lain seperti mobil, dengan motor mampu menembus kemacetan yang tentu saja bisa mempercepat waktu dalam menjangkau tujuan. Namun disamping berbagai keuntungan diperoleh tentu saja ada efek negatif yang perlu diperhatikan oleh para pengendara motor. Disamping rawan dengan kecelakaan, Bagi pengendara motor alias bikers sebaiknya berkendaralah dengan baik agar terjaga paru-parunya.
Bukan apa-apa, tingkat polusi udara di beberapa kota besar kini semakin tinggi. Semakin lama di jalanan semakin banyak zat beracun hasil pembuangan kendaraan bermotor yang bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Salah satu zat yang paling berbahaya adalah zat karbon monoksida (CO). Jika zat CO yang dihirup dalam jumlah besar atau berlangsung secara terus menerus dapat menimbulkan bahaya kesehatan. Karena hemoglobin yang terdapat di dalam tubuh lebih cenderung menyukai mengikat CO dan bukan oksigen, akibatnya orang bisa saja kekurangan oksigen.

“Efek jangka panjang yang bisa ditimbulkan adalah mudah terkena infeksi seperti sesak napas, terinfeksi kuman TBC atau mikroorganisme lain yang dapat menyerang paru-paru dan juga penyakit PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) ditandai dengan batuk-batuk berdahak yang tak kunjung henti,” ujar Prof Dr Faisal Yunus, MD, PhD, FCCP spesialis paru-paru saat dihubungi detikHealth, Senin (15/2/2010).

Sedangkan efek jangka pendek yang sering terasa adalah batuk-batuk, cepat capek, lelah dan mudah mengantuk. Bahaya polusi yang mengancam bikers ini menurut Prof Faisal juga tergantung dari daerah mana yang dilaluinya serta bagaimana orang tersebut menggunakan pelindung untuk dirinya seperti helm dan masker.

“Jika hal ini berlangsung secara terus menerus misalnya setiap hari maka tentu saja dapat menimbulkan efek jangka panjang dalam waktu 20-30 tahun mendatang,” ujar dokter yang berpraktik di RS MH Thamrin Jakarta.

Untuk mencegah efek jangka panjang ini, sebaiknya pengendara motor menggunakan pelindung untuk dirinya seperti helm tertutup, menggunakan masker dan jaket serta menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak mudah terkena infeksi melalui rajin berolahraga dan mengonsumsi makanan yang sehat.

Jika masalah pelindungnya tidak lengkap dikhawatirkan udara yang sudah terpolusi dan mengandung berbagai partikel karbon berukuran kecil dapat mengiritasi dan masuk melalui saluran napas. Ujung-ujungnya dapat mengurangi fungsi dari paru-paru seseorang. Karenanya jika seseorang tidak melindungi dirinya, maka bisa saja efek jangka panjang tersebut muncul lebih cepat.

Tak heran menurut Prof Faisal banyak kasus pengendara motor yang terinfeksi TBC. Bisa jadi karena alat pelindungnya yang kurang lengkap dan kondisi tubuhnya juga tidak terjaga dengan baik.

“Jika seseorang sudah didagnosis terinfeksi TBC, maka sebaiknya dilakukan pengobatan hingga tuntas minimal selama 6 bulan berturut-turut. Karena jika berhenti di tengah jalan dapat memicu timbulnya MDR-TB (multi drug resistent-tuberkulosis) yang lebih berbahaya,” ungkapnya.

Meskipun efek yang ditimbulkan jangka panjang, tapi tak ada salahnya bagi pengendara motor untuk menyayangi organ paru-parunya dengan menggunakan pelindung diri dan menjaga pola hidup yang sehat dan juga yang tak kalah penting adalah dengan mengurangi atau menstop saja kebiasaan merokok bagi para bikers.

@ sumber utama : health.detik.com

health.detik.com