Sebenarnya kutipan artikel ini merupakan peringatan kewaspadaan bagi saya pribadi dan keluarga sekitar lingkungan yang notabene memiliki lokasi rumah disekitar lereng perbukitan. Dengan maksud untuk berbagi ilmu artikel ini saya kutip dari situs Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat.

– DistambenJabar- Pada saat hujan, air hujan akan cenderung mengalir menuju jalur-jalur sungai atau lembah-lembah yang merupakan jalur struktur patahan batuan. Akibatnya tanah lereng pada lembah-lembah sungai tersebut akan lebih jenuh air dibandingkan dengan tanah di bagian lain. Semakin deras hujan akan semakin besar debit air yang terakumulasi ke dalam lereng pada jalur-jalur patahan. Akan tetapi air tersebut tidak dapat meresap lebih dalam lagi ke dalam lereng karena terhalang oleh batuan kubah andesit yang kedap air. Hal ini sangat berbahaya, karena air yang terakumulasi pada jalur lereng-lereng tersebut akan terus menekan butiran-butiran tanah penutup lereng (yaitu tanah lempung pasiran) dan akhirnya dapat mendorong tumpukan tanah tersebut untuk menggelincir (longsor) ke bawah. Karena besarnya akumulasi air yang mendorong longsoran tanah, maka longsoran ini selalu diikuti dengan terjadinya aliran lumpur cepat. Setelah longsorpunĀ  akan terlihat rembesan air yang keluar dari lereng. Hal ini berarti, air masih bekerja menekan lereng, dan longsoran susulan dapat terjadi lagi pada timbunan tanah rombakan longsoran. Oleh karena itu sangat penting untuk menjauhkan manusia dari lereng yang sudah longsor terutama saat hujan (meskipun tidak deras). Disarankan daerah yang sudah longsor ditutup dari kegiatan peninjauan dan kerumunan manusia.
Jadi ada tiga hal utama penyebab longsoran-longsoran yang terjadi karena faktor kondisi alam (bukan faktor manusia). Tiga hal tersebut meliputi :
1. Kondisi Geologi, yaitu adanya jalur-jalur patahan dan retakan batuan yang meng-akibatkan kondisi lereng yang miring lebih dari 30 derajat; serta adanya tumpukan tanah lempung pasiran di atas batuan kedap berupa andesit dan breksi andesit.
2. Kondisi hujan deras
3. Sistem hidrologi (tata air) pada kubah Andesit Tua.

Diantara ketiga kondisi alam tersebut kondisi geologi dan hujan deras merupakan sesuatu yang given, kita tidak dapat menolak atau menghindarinya. Satu-satunya kondisi yang dapat dikontrol di sini adalah kondisi hidrologi (sistem tata air) pada kubah Andesit Tua. Kondisi tata air ini pulalah yang paling sensitiv untuk berubah baik dalam dimensi waktu (bahkan dalam satuan menit) ataupun dalam dimensi ruang, sebagai responnya terhadap air hujan yang meresap masuk ke dalam lereng. Hal inilah yang perlu dipikirkan lebih lanjut oleh para pakar atau institusi yang berkompeten dalam hal mengelola sistem tata air di sana. Dengan lebih dipahaminya sistem hidrologi di kubah Andesit Tua, maka akan dapat diprediksi zona-zona dan titik-titik mana saja yang sangat sensitiv untuk segera jenuh air (yang berarti yang rawan terhadap longsoran), serta dapat diprediksi hujan yang bagaimanakah yang merupakan hujan pemicu longsoran. Akhirnya nanti dengan memonitor tingkat kejenuhan air pada zona/titik rawan longsor tersebut dab dengan memonitor curah hujannya, suatu sistem peringatan dini terhadap bencana longsoran dapat ditetapkan. Selain hal tersebut, dapat pula dirancang suatu sistem pengelolaan air dan drainase yang tepat dan sederhana. Kesederhanaan teknologi yang akan ditetapkan sangat perlu. Dengan teknologi sederhana (misal dengan sistem parit gali dan saluran bambu), maka penduduk setempat dapat diberdayakan untuk mengelola dan merawatnya.
Hujan pemicu longsoran.

Secara umum ada dua tipe hujan pemicu longsoran di Indonesia, yaitu tipe hujan deras (misalnya mencapai 50 mm hingga 70 mm per hari) dan tipe hujan normal tapi lama.

Tipe hujan deras hanya akan efektif memicu longsoran pada lereng-lereng yang tanahnya mudah menyerap air, seperti misalnya pada tanah lempung pasiran dan tanah pasir. Pada lereng demikian longsoran dapat terjadi pada bulan-bulan awal musim hujan, misalnya akhir Oktober atau awal November.

Sedangkan tipe hujan normal tapi lama akan lebih efektif memicu longsoran pada lereng yang tersusun oleh tanah yang lebih kedap air, misalnya lereng dengan tanah lereng lempung. Pada lereng ini longsoran umumnya terjadi mulai pada pertengahan musim hujan, misal pada bulan Desember hingga Maret.

Beberapa kasus bencana longsor di Kabupaten Garut, tampaknya tipe hujan deras sebagai pemicu longsoran, karena kondisi tanahnya adalah lempung pasiran. Tanah ini saat musim kemarau kering dan mengkerut, sehingga retak-retak. Apabila hujjan turun, tanah akan dengan segera menyerap dan merembeskan air hujan, namun air yang terserap ini kemudian akan terhalang oleh batuan andesit kedap yang mengalasi tanah tersebut. Akibatnya air hanya terjebak dan terakumulasi di atas batuan andesit penyusun lereng, dan akhirnya menekan dan menggelincirkan tanah yang diresapinya.

Dengan diketahuinya tipe hujan pemicu ini nantinya early warning system diharapkan dapat dilaksanakan.

Dengan memahami fenomena penyebab terjadinya longsoran, Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Jawa Barat telah melakukan pemetaan daerah Rawan Bencana Gerakan Tanah Longsor di Jawa Barat dan sosialisasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota se Jawa Barat serta penduduk setempat di zona rawan longsor tentang cara praktis mengenali zona rawan longsor, tanda-tanda atau gejala-gejala awal longsoran dan bagaimana tindakan emergencynya. Dengan cara ini diharapkan pemerintah Kabupaten/Kota dan penduduk setempat akan lebih memahami alamnya, lebih percaya diri dan berdaya dalam menghadapi ancaman longsoran berikutnya.

Hal penting yang harus diperhatikan semua pihak adalah menutup lokasi yang sudah longsor dari kerumunan massa yang akan meninjau. Meninjau longsoran tidak harus selalu menginjakkan kaki di atas tumpukan tanah yang sudah longsor. Ini dapat berbahaya, karena tanah tersebut masih berupa lumpur dan pada beberapa tempat yang tak terduga dapat merupakan kubangan lumpur yang dalam. Disarankan hanya orang yang berpengalaman saja yang dilengkapi dengan alat pengaman khusus (misalnya tim SAR atau Tim evakuasi korban) yang diperkenankan masuk. Para aparat dan mungkin pejabat dan masyarakat cukup meninjau dari jauh dan tidak berada pada posisi bawah lereng. Lereng-lereng tersebut masih jenuh mengandung air yang bersifat menekan, dan masih potensi untuk longsor lagi.

Untuk mencegah bertambahnya korban dan kerugian akibat longsoran susulan, yang diperkirakan akan bermunculan di berbagai tempat/daerah hingga akhir musim hujan nanti, bersama ini dapat diinformasikan untuk lebih memberdayakan masyarakat dalam hal mencegah dan menghindari bencana longsoran. Informasi yang menyangkut petunjuk praktis dalam mengenali hal-hal seperti :

1. Daerah yang rawan longsor
2. Lereng yang berbakat longsor
3. Gejala awal (indikasi) akan terjadinya longsoran
4. Tindakan praktis yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya longsoran
5. Tindakan emergency untuk menyelamatkan diri dari longsoran.

Daerah-daerah yang terletak di sepanjang lereng Gunung Api umumnya rawan longsor, terutama di bagian lembah. Daerah yang dinilai paling rawan bencana longsor di Jawa Barat terutama berada di daerah Puncak, Sukabumi, Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya, dan Padalarang.

Oleh karena itu dapat dihimbau agar masyarakat di daerah-daerah rawan bencana longsor lebih bersiap diri melakukan antisipasi dan mitigasi dini, yaitu dengan mengenali lereng – lereng yang berbakat longsor, gejala awal (indikator) lereng akan longsor, serta tindakan praktis ataupun emergency untuk mencegah dan menghindari longosran.

Lereng yang berbakat longsor umumnya mempunyai salah satu ciri sebagai berikut :

1. merupakan lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah lempung yang tebal
2. merupakan lereng yang tersusun oleh tumpukan tanah lempung yang menumpang di atas batuan kompak dan keras
3. merupakan lereng yang tersusun oleh perlapisan tanah atau perlapisan batuan yang miring ke arah luar lereng

Yang disebut sebagai tanah lempung yaitu tanah yang apabila dalam kondisi kering bersifat keras, getas dan sering tampak retak-retak, tetapi apabila basah tanah ini segera berubah menjadi licin, lengket dan lunak seperti pasta gigi. Tanah lempung ini dapat berwarna merah kecoklatan, ataupun berwarna abu-abu atau biru dan bersisik saat kering.

Perlu diperhatikan pula lereng yang berbakat longsor tidak harus selalu lereng yang curam. Lereng dengan kemiringan 15 derajat dapat pula longsor apabila tersusun oleh tanah atau batuan dengan salah satu kondisi di atas. Sebaliknya meskipun lereng bersudut curam, tetapi apabila tidak tersusun oleh salah satu dari tiga kriteria struktur tanah di atas, maka lereng tersebut juga tidak akan longsor.

Air hujan yang telah meresap ke dalam tanah lempung pada lereng akan tertahan oleh batuan yang lebih kompak dan lebih kedap air. Derasnya hujan mengakibatkan air yang tertahan semakin meningkat debit dan volumenya, dan akibatnya air dalam lereng ini semakin menekan butiran – butiran tanah dan mendorong tanah lempung pasiran untuk bergerak longsor. Jadi di sini batuan yang kompak dan kedap air (yang umumnya mengalasi tanah yang gembur) berperan sebagai penahan air dan sekaligus sebagai bidang gelincir longsoran, sedangkan air berperan sebagai penggerak massa tanah yang tergelincir di atas batuan kompak tersebut. Semakin curam kemiringan lereng maka kecepatan penggelinciran juga semakin cepat. Semakin gembur tumpukan tanah lempung ini maka semakin mudah tanah tersebut meloloskan air dan semakin cepat air meresap ke dalam tanah. Semakin tebal tumpukan tanah, maka juga semakin besar volume massa tanah yang longsor. Tanah yang longsor dengan cara demikian umumnya dapat berubah menjadi aliran lumpur yang pada saat longsor sering menimbulkan suara gemuruh.

Pada prinsipnya tanah tersebut longsor karena terdorong oleh tekanan air dalam lereng. Agar air cukup mempunyai kekuatan untuk melongsorkan, maka air dalam lereng tersebut harus cukup terakumulasi dalam lereng. Pada waktu pagi hingga siang hari umumnya baru terjadi penguapan air permukaan pada sungai-sungai, danau dan laut. Kemudian sekitar pukul dua siang umumnya baru terjadi mendung, sedangkan hujan baru turun setelah mendung pada sore hari. Saat hujan sore hari mulai turun, air dalam lereng belum begitu jenuh, sehingga perlu waktu beberapa saat agar hujan dapat menjenuhkan lereng. Jadi apabila hujan dimulai sore, maka longsoran tanah gembur baru akan terjadi malam hari saat tanah tersebut sudah cukup jenuh.

Tidak selalu hujan deras mengakibatkan longsoran pada lereng yang berbakat longsor. Apabila tanah yang berbakat longsor tersebut bersifat gembur, maka tanah ini bersifat sangat lolos air. Akibatnya hujan yang deras sangat efektif untuk meresap masuk ke dalam lereng, dan dalam waktu beberapa jam saja air sudah mempunyai cukup kekuatan untuk melongsorkan tanah teresebut. Untuk longsoran pada tanah gembur semacam ini umumnya sudah mulai dapat terjadi pada awal musim hujan (misalnya awal November).

Namun apabila tanah penyusun lereng tersebut bersifat lebih sulit meloloskan air, misalnya tanah-tanah lempung yang kedap air (tidak gembur), maka hujan yang deras tidak dapat efektif meresap ke dalam tanah tersebut, melainkan akan menjadi air limpasan (run-off), yang selanjutnya akan cenderung menjadi banjir di daerah bawah lereng. Untuk kondisi tanah yang lebih sulit meloloskan air ini hujan yang paling efektif untuk melongsorkan tanah adalah hujan yang normal saja (bukan hujan deras), tapi turun selama beberapa hari atau beberapa minggu (tiap harinya turun selama beberapa jam). Longsoran pada tanah semacam ini umumnya terjadi pada pertengahan musim hujan (misal Desember) hingga akhir musim hujan (misal Maret).

Munculnya retakan tanah yang memanjang sejajar sisi lereng, dan retakan ini sering pula berbentuk tapal kuda. Retakan ini merupakan indikasi awal lereng siap meluncur. Sering pula retakan ini tidak hanya terjadi pada tanah, tetapi juga pada bangunan dan jalan. Indikasi yang lain adalah munculnya rembesan-rembesan air pada lereng.

Segera laporkan ke aparat setempat dan sumbat (timbun) retakan tanah, ataupun retakan jalan tersebut dengan sesuatu yang kedap air. Maksudnya adalah untuk mencegah agar air (misalnya air hujan) tidak akan meresap masuk ke dalam retakan tersebut, yang akhirnya akan mendorong lereng untuk bergerak longsor.
Apabila retakan tanah sudah berkembang sehingga lebarnya mencapai 5 cm dalam waktu 1 jam, maka segera saja lereng dan daerah bagian bawah lereng dikosongkan dari kegiatan manusia. Ini berarti lereng sudah siap untuk meluncur longsor.

Dalam kondisi semacam ini harus dihindari getaran-getaran pada lereng serta penggalian pada bagian kaki lereng.
Apakah yang dapat dilakukan oleh masyarakat di daerah rawan longsor sebelum indikasi awal longsoran muncul (untuk langkah pencegahan longsoran) ?

1. Atur drainase lereng sehingga tingkat kejenuhan air dalam lereng setelah hujan turun dapat dikurangi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan membuat parit yang berfungsi untuk menyalurkan air limpasan hujan ke arah menjauhi lereng yang rawan longsor.
2. Membuat saluran drainase dalam lereng dengan cara menusukkan pipa-pipa bambu yang dilubangi kedua ujungnya. Pipa ini ditusukkan pada bagian bawah lereng kurang lebih 1 m di atas titik-titik rembesan air yang keluar dari lereng. Panjang pipa minimal 2 meter. Untuk menghindari penyumbatan oleh butir-butir tanah yang ikut terbawa air, di dalam pila dapat diberi filter berselang-seling berupa ijuk dan pasir.
3. Apabila hujan deras turun atau hujan tidak deras turun terus menerus selama lebih dari 1 jam, disarankan sementara menyingkir dari daerah pada lereng dan di bawah lereng yang rawan longsor.
4. Jangan menimbulkan getaran pada lereng
5. Jangan melakukan penggalian pada bagian kaki lereng

Sosialisasi/penyebar luasan informasi ini sebaiknya dapat dilakukan secara lebih gencar, misalnya melalui tayangan televisi dan radio yang diputar minimal tiga kali sehari menjelang dan selama musim hujan. Kita dapat mencontoh sosialisasi cara pencegahan Demam Berdarah ataupun cara emergency untuk mengatasi Diare dengan garam oralit. Dengan cara sosialisasi yang gencar dan tidak terkesan menakut-nakuti ini, masyarakat akan lebih memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi, mengapa hal tersebut terjadi dan langkah-langkah apa yang dapat mereka lakukan sendiri untuk menolong diri mereka sendiri. Dengan kata lain, masyarakat akan lebih berdaya dalam menghadapi longsoran. Apabila seluruh masyarakat sudah terkondisikan dengan situasi siap menghadapi longsoran, diharapkan jumlah korban longsoran susulan dapat lebih jauh berkurang dan hal ini akan jauh lebih meringankan aparat dalam menangani bencana longsoran.

Jadi secara umum dapat disarankan kepada pemegang kebijakan beberapa tindakan yang perlu dilakukan sbb :

A. Emergency action dengan cara :
1. sosialisasi petunjuk praktis mengantisipasi longsoran secara dini dan petunjuk praktis menghindari bahaya longsoran. Sosialisasi harus mencapai level masyarakat desa.
2. Pemantauan retakan- retakan tanah ataupun retakan jalan dan bangunan pada daerah rawan longsoran selama musim hujan. Retakan ini akan berbentuk khas memanjang ataupun melengkung seperti tapal kuda. Pemantauan retakan juga harus dilakukan setiap hari selama musim hujan pada tanah-tanah yang berdekatan dengan bangunan air ataupun bangunan fasilitas umum seperti pada tanah-tanah di sekitar bendungan, bendung, saluran air, tanggul air, jalan kereta api, dan jalan raya.

B. Midterm action :
Pemetaan ulang daerah rawan longsoran dan pemasangan rambu-rambu pada lokasi longsor.

C. Longterm action :
Penanggulangan terpadu berdasarkan pendekatan perlindungan ekosistem. Baik longsoran ataupun banjir pemicu utamanya adalah terganggunya sistem tata air pada suatu ekosistem. Jadi penanggulangan kedua jenis bencana tersebut harus terpadu dan melibatkan berbagai instansi dan disiplin ilmu terkait, guna mengelola sistem tata air pada ekosistem yang rawan longsor dan banjir.

ANTISIPASI TERJADINYA BENCANA

Secara umum daerah rawan bencana longsor di P. Jawa terdapat di sepanjang lereng selatan jajaran Gunung Api yang melintas dari Jawa Barat hingga ke Jawa Timur. Daerah ini apabila tidak diwaspadai sebelumnya, umumnya longsoran dapat terjadi mulai awal musim hujan, misalnya mulai bulan Desember hingga Maret. Oleh karena itu dihimbau agar daerah-daerah tersebut segera mulai melakukan antisipasi dini. Antsipasi yang paling tepat dan praktis, adalah dengan menjaga lereng-lereng rawan longsor tersebut tidak jenuh air, misal dengan cara :

1. Arahkan limpasan air hujan dari atas lereng menjauh dari bagian lereng yang rawan longsor
2. Tancapkan pipa-pipa/bambu-bambu yang dilubangi kedua ujungnya melalui muka lereng, untuk menguras air yang sudah terlanjur terjebak di dalam lereng.
3. Apabila sudah mulai muncul retakan tanah yang memanjang sejajar sisi lereng, dan retakan ini umumnya melengkung seperti tapal kuda, segera sumbat tanah retak tersebut dengan bahan kedap air atau tanah lempung, agar air hujan tidak dapat meresap ke dalam retakan, dan tindakan pengaturan drainase lereng harus segera dilakukan
4. Apabila retakan tanah semakin cepat berkembang, misal : lebarnya telah mencapai 5 cm dalam waktu 1 jam, kosongkan segera lereng agar tidak ada aktivitas manusia. Retakan tanah ini adalah indikator kritis tanah sudah siap untuk meluncur ke bawah lereng.

@ http://www.distamben-jabar.go.id