@kompas.com /Selasa, 27 Oktober 2009

Setiap anak akan mengalami fase negativisme yang ditunjukkan dengan perilaku penolakan dan membangkang. Bagaimana mengatasinya agar tak berlanjut?

Penting dipahami, semakin anak dilarang, perilaku negativitik akan semakin menjadi. Nah, agar hal tersebut tak terjadi, inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua:

– Hindari terlalu banyak menggunakan kata “tidak” atau “jangan”. Untuk melarang anak sebaiknya pilih kata positif. Contoh, “Sayang, kita main air di kamar mandi yuk sekalian mandi sore”, ketimbang, “Mama kan sudah bilang, jangan main air kran. Basah semua deh.”

– Beri kesempatan pada anak untuk melakukan apa yang diinginkannya – tentu saja sejauh tidak membahayakan- tapi tetap dengan pendampingan. Misal, anak ingin membantu menyiram tanaman, sediakan gembor/gayung kecil, lalu ajari anak bagaimana menyiram tanaman dengan air secukupnya.

– Biasakan mengajak anak berdialog sejak kecil, meski perkembangan bahasanya masih terbatas. Umpama, anak menolak permintaan orangtua, tanyakan mengapa ia tidak mau, pancing jawabannya lalu coba arahkan bagaimana seharusnya. Terlebih di usia prasekolah, umumnya penolakan anak disertai dengan alasan. Contoh, “Aku enggak mau makan. Sayurnya pahit.”

Ini karena kemampuan kognitif dan bahasa anak sudah semakin berkembang, demikian juga kemampuan sosialnya. Pada usia ini anak semakin menyadari bahwa mereka dapat bertindak secara mandiri, sesuai keinginannya. Dengan kata lain anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan (power) untuk bertindak sesuai kehendaknya.

– Berikan pilihan terbatas. Misal, anak tidak mau segera tidur, orangtua bisa menggunakan kata, “Adek mau gosok gigi dulu atau ganti baju dulu baru tidur?” Dengan begitu anak merasa dilibatkan saat pengambilan keputusan.

– Hindari ancaman/paksaan. Selain membuatnya makin menolak, jadi anak belajar bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan ancaman/paksaan bukan dengan dialog dan saling mendengarkan. (Nakita/Marfuah/Narasumber: Dr.Weni S.Pandia, M.Si dari Fakultas Psikologi Unika Atmajaya, Jakarta)