(c) Radio Tarbiyah

Ramadhan merupakan salah satu sarana dan momentum istimewa bagi setiap mukmin atau mukminah untuk bermuhasabah dan bercermin, yang dengannya, ia bisa mengetahui tingkat keimanannya, kualitas ketakwaannya pada Allah ta’ala, dan kadar kerinduannya pada kehidupan ukhrawi yang bahagia. Dan melalui cermin ramadhan seseorang bisa menguji diri dan hatinya, untuk mengetahui sudah berada ditingkat apakah ia? Apakah tingkat iman dan taqwanya masih tetap berada ditingkat dasar : zhalimun linafsih (aniaya terhadap diri sendiri), atau sudah naik ketingkat menengah : muqtashih (pas-pasan, sedang-sedang saja, dan dalam batas minimal aman dan selamat), atau alhamdulillah sudah sampai ditingkat tinggi : sabiqun bil-khairat (pelopor dan terdepan dalam berbagai kebaikan)?


Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS Faathir : 32)

Muhasabah Selama Ramadhan

Pertama, bertanyalah kepada diri sendiri bagaimana kita memanfaatkan momentum istimewa yang bernama Ramadhan? Karena setiap waktu dalam bulan ramadhan , setiap detiknya, setiap menitnya, setiap jamnya, setiap harinya, setiap malamnya, setiap siangnya, setiap paginya dan seluruhnya, adalah momentum istimewa yang penuh barakah, epnuh rahmah, penuh magfirah, penuh peluang pembebasan dari api neraka, pengabulan doa, penerimaan taubat, pelipat gandaan amal ibadah dan lain-lain khususnya pada sepuluh malam dan hari terakhir, dan puncaknya pada malam Lailatul Qodar. Apakah hati, jiwa dan perasaan kita sudah cukup peka, sehingga selalu bisa menyadari dan merasakan itu semua? Nah, kulaitas keimanan dan kadar ketaqwaan seseorang sangat ditentukan oleh sikap dan upayanya untuk menggapai kemuliaan selama ramadhan, demi menyadari bahwa iasedang berada dalam waktu-waktu istimewa bahkan super istimewa dan peluang-peluang emas bahkan berlian, yang sama sekali jauh berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan waktu-waktu dan peluang-peluang dibulan lain.

Maka masing-masing kita harus melakukan muhasabah minimal harian bahkan setiap saat selama ramadhan, dan bertanya pada diri sendiri : amal istimewa apa yang sudah dibuat dan dilakukannya pada waktu-waktu, hari-hari dan malam-malam yang telah berlalu dari bulan istimewa ini? Sudah istimewakah puasanya, shalatnya, qiyamullailnya, tilawahnya, dzikir doanya, infaq sedekahnya, danamal-amal shalihnya yang lain? Ya, yang harus kita muhasabahi memang tentang seberapa istimewa amal-amal shalih itu telah kita lakukan. Karena jika amal-amal shalih yang kita lakukan selama ramadhan ini, baru sama dengan yang kita lakukan di bulan-bulan lain, meskipun tentu itu bagus dan harus, namun masih belum cukup, karena itu berarti kita masih menyikapi bulan ramadhan sama dengan yang lain, dan belum mengistimewakannya. Karena mengistimewakan ramdahan nan istimewa haruslah dengan amal-amal yang istimewa, dan tidak cukup dengan yang biasa-biasa saja.

Kedua , selama ramadhan kita bisa bercermin untuk melihat hakekat jiwa kita apa adanya, tanpa campur tangan syetan penggoda dan pengganggu utama yang berdasarkan hadits muttafaq ‘alaih dirantai dan dibelenggu selama ramadhan. Artinya , ketika selama ramadhan seseorang masih punya niat buruk, kecenderungan buruk dan beramal buruk, maka ia harus sadar bahwa, keburukan itu murni berasal dari potensi futur (QS Asy-Syams : 7-10) dalam jiwanya dan dari nafs ammarah bis-su’ nya (QS Yusuf: 53) atau dari nafs musawwilah-nya (Qs Yusuf: 18) dan bukan dari godaan syetan yang sedang dirantai, yang berarti sedang non aktif dari fungsi dan tugas utamanya, yakni menggoda.(Ahmad Mudhofar J)

About these ads