Quantum learning, upaya membangkitkan kesenangan dalam belajar

Musim panas, Juli 1982. Enampuluh empat anak muda berkumpul di perkemahan yang digelar di Kirkwood Ski Resort, di dekat Danau Tahoe, California. Mereka ada di sana bukan untuk sekadar bersenang-senang, melainkan untuk mengikuti program belajar efektif. Bobbi DePorter dan Eric Jensen sedang menjelaskan metode belajar baru yang diramu dari berbagai penemuan ilmiah kepada peserta perkemahan.

Ada tiga ketrampilan dasar yang mereka ajarkan dalam perkemahan yang kemudian dijuluki SuperCamp itu, yakni ketrampilan akademis, prestasi fisik, dan ketrampilan hidup. Hasilnya demikian impresif. Setelah mengikuti perkemahan selama sepuluh hari, motivasi belajar peserta meningkat, nilai belajar di sekolah semakin tinggi, mereka lebih percaya diri, harga diri meningkat, dan ketrampilan belajar pun berkembang.

Dari sukses itulah, kegiatan SuperCamp kemudian diadakan di berbagai tempat melalui Learning Forum, yang pada tahun ini tepat berusia 20 tahun. Learning Forum didirikan oleh DePorter bersama Jensen, namun kemudian Jensen keluar dan posisinya digantikan oleh Joe Chapon. Dalam waktu dua dekade ini SuperCamp telah meluluskan lebih dari 25 ribu peserta dalam kegiatan yang diadakan di 50 negara bagian AS dan 70 negara lain.

Programnya pun berkembang dengan peserta berusia 9-24 tahun dan menghabiskan 8-10 hari di perkemahan. Teknik-teknik yang dipelajari juga kian inovatif, seperti teknik membaca kuantum, teknik menulis cepat dan tepat, memecahkan masalah secara kreatif, strategi belajar di perguruan tinggi, teknik mengingat, teknik menguasai matematika, dan ketrampilan hidup. DePorter menamai temuannya ini Quantum Learning –meminjam istilah dalam fisika, kuantum, dan menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki manusia itu ibarat kuantum yang dapat diubah menjadi energi yang dahsyat.

Jadi, menurut DePorter, manusia pada dasarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk melampaui kemampuan yang ia perkirakan. Ini karena manusia memiliki potensi yang belum tergali, apalagi terasah. Untuk menggali potensi itu, menurut DePorter, lingkungan mesti mendukung agar proses belajar berlangsung mudah, menarik, dan menyenangkan. “Rasa aman dan saling percaya di antara murid dan guru merupakan hal esensial bagi proses belajar,” tutur DePorter. Lingkungan itulah yang dimodelkan dalam SuperCamp.

Program ini bertumpu pada asumsi bahwa setiap orang memiliki potensi besar dan dapat berhasil baik di sekolah maupun dalam kehidupan –jika diberi peranti dan keyakinan untuk belajar dan tumbuh-berkembang, bahwa anak yang memiliki harga diri (self-esteem) positif akan belajar sangat cepat dan efektif. DePorter mengembangkan teknik untuk membantu menggempur kendala yang menghalangi seseorang untuk meraih sukses, seperti motivasi yang rendah, harga-diri yang kerdil, serta prestasi yang minim.

Potensi besar itulah yang kerap terpenjara oleh ruang-ruang kelas di sekolah. Mengutip Sandy MacGregor, dalam Piece of Mind, seorang jenius baru memanfaatkan kemampuan otaknya sebesar 5-6 persen saja, sedangkan orang-orang biasa baru memanfaatkan 4-5 persennya. Pada orang biasa, potensi itu tak tergali antara lain karena proses belajar di ruang-ruang kelas tertangkap sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan.

Banyak pelajar menganggap ruang kelas sebagai penjara, karena proses belajar yang tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam mencurahkan perhatian dan pikiran pada mata pelajaran tak ubahnya duduk di atas bara api. Belajar dirasakan sebagai beban dan tidak nyaman. Bahkan, kata Bobbi DePorter, “Pada akhir sekolah dasar, kata belajar dapat membuat banyak siswa tegang dan takut.” Yang terjadi ialah anak menghambat pengalaman belajarnya secara terpaksa karena mengalami kebuntuan belajar (learning shutdown).

Itulah yang diubah oleh DePorter melalui proyek SuperCamp-nya. Dengan metode belajar yang diramunya dari sejumlah metode yang ada lebih dulu, DePorter mengubah proses belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, sederhana, dan efektif. Lingkungan yang suportif akan membangkitkan harga diri siswa, sebaliknya kritik tajam akan “membunuh” proses belajar.

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam metode Quantum Learning, antara lain menciptakan ruang belajar yang kondusif untuk membangun sugesti. Misalnya, memasang musik latar di dalam kelas, pelajar bisa duduk secara nyaman, membuka lebar-lebar partisipasi individu, serta menyediakan guru yang terlatih –bukan saja ia menguasai benar mata pelajarannya, tapi juga seni memberi sugesti.

Itu berarti antara pengajar dan pelajar mesti terjalin saling pengertian dan saling mempercayai. Hubungan timbal-balik itu menggambarkan kondisi internal dan eksternal murid. Di satu sisi, menurut DePorter, siswa perlu mengondisikan diri agar memiliki emosi positif ketika belajar. Di sisi lain, siswa perlu diberi motivasi agar dari dalam dirinya muncul semangat belajar.

Bila emosi positif –emosi adalah bagian penting dari kecerdasan seseorang– tidak dapat dibangun, ruang-ruang kelas tak lebih dari sekat-sekat yang membatasi pengembaraan intelektual seseorang. Murid menjadi loyo dan proses belajar menjadi membosankan. Karena itulah, DePorter mengatakan pada dasarnya setiap orang mampu belajar –baik di dalam kelas maupun dalam kehidupan nyata. Namun, untuk meraih sukses dalam belajar, keyakinan diri, rasa hormat, dan kepedulian terhadap individu merupakan hal vital yang harus dibangkitkan lebih dulu.

Karena itu pula, dalam SuperCamp diajarkan ketrampilan hidup seperti berkomunikasi secara efektif, menjalin hubungan dengan orang lain, berlatih mendengarkan, memecahkan masalah, serta mengikuti petualangan di alam terbuka. Perbedaan paling pokok antara SuperCamp dan program sejenis lainnya terletak pada cara penyelenggara memfasilitasi perubahan sikap dan motivasi peserta terhadap sekolah. SuperCamp mengajarkan bagaimana cara belajar yang cepat dan efektif (learning-to-learn).

Melalui metode belajar yang mudah dipraktekkan, efektif, dan menyenangkan seseorang dirangsang semangatnya untuk berusaha keras menguasai materi yang ia pelajari. Ia tak ubahnya anak balita yang diberi mainan baru. Tanpa bertanya “ba bi bu”, ia langsung terdorong untuk mengutak-atik mainan itu karena ia ingin mengenalnya lebih dekat dan dari segala penjuru. Inilah yang disebut proses belajar menyeluruh atau global learning.

Begitulah, anak-anak balita hingga usia 6-7 tahun berlaku tak ubahnya spons yang menyerap berbagai fakta, sifat fisik, dan kerumitan bahasa dengan cara yang amat menyenangkan dan bebas stres. Bukankah kita kerap merasa takjub menyaksikan balita mampu mengucap satu kata, dua kata, lalu kalimat, dan kemudian ia berbicara bak hujan deras.

Kuncinya ialah karena bagi anak-anak itu belajar dan bermain tidaklah berbeda; mereka belajar dengan riang dan bebas stres. Kedua hal inilah yang ingin dihadirkan kembali oleh Quantum Learning di ruang-ruang belajar di sekolah, di rumah, maupun dalam kehidupan sosial yang nyata.

sumber artikel :

http://faculty.petra.ac.id/ido/artikel/quantum_learning.htm

About these ads